<< Kembali ke Blog

Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan Pemilik Apotek

Baik pemilik maupun pengelola apotek tentu tak ingin membuat kesalahan yang bisa memengaruhi kesehatan pasien. Di satu sisi, kurangnya pengalaman para apoteker baru tak jarang membuat mereka khawatir kalau harus membicarakan soal kesalahan yang pernah dibuat, meskipun mereka diberi janji bahwa mereka tidak akan diberi penalti.

Karena itu, baik pemilik apotek maupun apoteker lama dan baru bisa terus mewaspadai berbagai kesalahan yang sayangnya umum terjadi. Dengan mengenali dan mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut, hal yang sama pun bisa dihindari dan dicegah agar tidak Anda lakukan.

Baca Juga : Peluang, keuntungan dan tantangan bisnis apotek di era BPJS

Hanya saja, apa sih dampak dari kesalahan yang sayangnya sering dilakukan? Dan apakah dampaknya parah?

Konsekuensi dari Kesalahan Apotek

Berikut ini adalah beberapa dampak yang umum terjadi karena kesalahan yang dilakukan pemilik apotek maupun apoteker yang mengelolanya, baik apoteker senior maupun junior, seperti:

  • Obat yang keliru.
  • Penggunaan obat yang berbahaya.
  • Kesalahan pemberian obat karena nama yang serupa.
  • Pemberian dalam dosis yang berlebihan (overdosing).
  • Pemberian dalam dosis yang kurang.(under-dosing).
  • Kurangnya peringatan akan kandungan alkohol.
  • Kurangnya peringatan bagi pasien hamil.

Tak jarang, dampak tersebut bisa berakibat buruk bagi kondisi fisik dan kesehatan pasien, yang berujung pada gugatan di ranah hukum dan kompensasi bagi pasien yang dirugikan.

Kesalahan Umum Pemilik dan Pengelola Apotek

  1. Pasien yang keliru.

Seorang apoteker setiap harinya menjalankan tugas yang sangat beragam: memesan obat, melakukan verifikasi obat, mengambil, mengepak, mengecek, mengirimkan, dan menyerahkan obat kepada pasien. terlepas dari apa jenis penyakit yang diderita, langkah awal yang harus dilakukan semua apoteker adalah mengidentifikasi pasien yang benar. Kesalahan memverifikasi atau menyerahkan obat kepada pasien yang benar sering kali dialami oleh apoteker baru, salah satunya karena nama pasien yang sama atau mirip.

Untuk mencegahnya, pemilik apotek perlu memastikan sistem di mana setiap apoteker yang jaga harus melakukan identifikasi bukan hanya dari nama, tapi juga nomor pasien, tanggal lahir, nomor resep, dan alat identifikasi yang unik lainnya. Kemudian, cocokkan juga dengan jumlah obat yang diresepkan.

  1. Obat yang salah.

Ada berbagai alasan mengapa pemberian obat yang salah bisa terjadi. Misalnya bentuk tablet yang mirip, dengan pengemasan dalam botol sehingga ada risiko tercampur. Atau, satu jenis obat namun dengan dosis yang berbeda-beda seperti metformin 250mg, 500mg, 500mg XR, dan 850mg per tabletnya.

Salah satu langkah prosedur yang bisa diterapkan pemilik apotek untuk mencegah dan menghindari kesalahan ini adalah selalu mengecek isi obat pesanan pasien terlebih dahulu sebelum menyerahkannya. Kemudian, lakukan pengecekan lagi di bagian konter atau kasir untuk hasil pengecekan yang lebih akurat (double-check).

  1. Ukuran kemasan atau pack size yang keliru.

Tak jarang, berbagai apotek menyimpan ukuran kemasan yang berbeda-beda untuk obat-obatan. Misalnya dalam satu kotak paracetamol, bisa jadi berisi 20 atau 50 tablet. Hal ini juga dilakukan oleh para produsen obat, yang memproduksi obat dengan ukuran kemasan yang berbeda-beda, seperti omeprazole yang berisi 7 tablet per strip, atau lorazepam yang berisi 500 atau 1000 tablet per botol.

Dalam hal ini, apoteker perlu membuat dirinya familiar atau hafal terlebih dahulu dengan beragam jenis ukuran kemasan yang tersedia di pasaran, terutama yang terdapat di dalam gudang persediaan apotek. Pemilik apotek bisa membuat sistem tertentu yang dianggap bisa mengatasi masalah ini – jika sebuah sistem gagal, diskusikan dengan tim untuk menemukan solusi pengganti yang lebih efektif dan efisien agar kesalahan pemberian obat karena ukuran kemasan yang berbeda bisa dihindari.

  1. Keliru membedakan tetes mata dan tetes telinga.

Berdasarkan standar industri, tetes mata (optic) adalah cairan steril yang sebenarnya juga bisa digunakan untuk mata maupun telinga. Akan tetapi, tetes telinga (otic) bukanlah cairan steril, dan tidak boleh digunakan untuk mata. Kekeliruan membedakan keduanya bisa jadi dialami apoteker baru.

Dalam mencegah kesalahan ini, pemilik apotek dianjurkan untuk menerapkan prosedur pengecekan terlebih dahulu sejak resep diterima – optic atau otic? Jika ragu, pastikan apoteker selalu menghubungi pemberi resep terlebih dahulu untuk melakukan verifikasi dan pengecekan.

  1. Lalai menyampaikan petunjuk penggunaan obat kepada pasien.

Tak jarang, ada obat yang penggunaannya memerlukan perhatian khusus. Contohnya pil hormon seperti estradiol, yang mengharuskan pasien untuk mengikuti siklus 28 hari penggunaan obat secara ketat, di mana 14 hari pertama pasien bisa mengonsumsi pil tersebut, dan 14 hari kemudian harus mengonsumsi obat yang berbeda. Atau, ada obat yang hanya boleh diminum pada pagi atau malam hari saja.

Untuk memastikan petunjuk penggunaan obat yang benar kepada pasien, pemilik apotek perlu melatih staf apoteker agar bisa menyampaikan informasi dengan baik, jelas, dan tidak tergesa-gesa. Apoteker juga perlu melakukan pengecekan berulang sebelum menyerahkan obat kepada pasien. Setelah menyampaikan petunjuk penggunaan, tanyakan kepada pasien apakah mereka sudah paham atau belum untuk mengonfirmasi.

Topik Populer

Video SwipeRx Terbaru

Farmakepo: Benarkah puasa pemicu gangguan pencernaan?

Baca lainnya

Keuntungan menggunakan SwipeRx?

Lebih dari 200,000 tenaga kefarmasian menggunakan fitur-fitur berguna di aplikasi SwipeRx untuk membantu kehidupan profesional sehari-hari mereka.