<< Kembali ke Blog

Apa Perbedaan Sterilisasi dan Depirogenasi?

sterilisasi_depirogenasi_bhs_0Sterilisasi dan depirogenasi adalah suatu proses yang mutlak digunakan dalam produksi produk farmasi. Pengetahuan tentang prinsip dasar sterilisasi sangat diperlukan untuk melakukan pekerjaan di bidang medis yang bertanggung jawab. Untuk memahami perbedaan antara sterilisasi dan depirogenasi, kita harus membahas keduanya secara terpisah.

Apa itu sterilisasi dan depirogenasi?

Sterilisasi adalah proses atau kegiatan menghancurkan atau memusnahkan semua mikroorganisme termasuk spora, dari sebuah benda atau lingkungan. Hal ini biasanya dilakukan dengan pemanasan atau penyaringan tetapi bahan kimia atau radiasi juga dapat digunakan.

Depirogenasi adalah proses untuk menghilangkan pirogen dari suatu larutan atau vial obat. Pirogen atau endoksin bakteri adalah produk metabolit dari pertumbuhan mikroba, larut air, tahan panas, LPS-nya tidak dapat dihancurkan dengan sterilisasi uap air/ penyaringan.

sterilisasi_depirogenasi_bhs_1

sterilisasi_depirogenasi_bhs_3

Apa saja metode sterilisasi dan depirogenasi?

Metode sterilisasi dibedakan menjadi 3 metode, yaitu metode fisika, metode kimia, dan metode mekanik. Masing-masing metode memiliki prosedur kerja yang berbeda, yaitu :

sterilisasi_depirogenasi_bhs_2

sterilisasi_depirogenasi_bhs_4

METODE FISIKA

a. Pemanasan kering

Prinsipnya adalah protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi sampai kering. Selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga menyebabkan mikrobanya mati.

  • Udara panas oven

Digunakan untuk sterilisasi alat gelas yang tidak berskala, alat bedah, minyak lemak, parafin, petrolatum, serbuk stabil seperti talk, kaolin, ZnO. Suhu sterilisasi yang digunakan adalah 170­­­­­­­oC selama 1 jam, 160­­­­­­­oC selama 2 jam, 150­­­­­­­180oC selama 3 jam.

  • Pemijaran langsung

Digunakan untuk sterilisasi alat logam, bahan yang terbuat dari porselen, tidak cocok untuk alat yang berlekuk karena pemanasannya tidak rata. Suhu yang digunakan 500-600oC dalam waktu beberapa detik, untuk alat logam sampai berpijar.

  • Minyak dan penangas lain

Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti gunting bedah sebagai lubrikan menjaga ketajaman alat, bahan kimia stabil dalam ampul. Bahan atau alat dicelupkan dalam penangas dicelupkan dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 160­­­­­­­oC. Larutan natrium atau amonium klorida jenuh dapat digunakan pula sebagai pengganti minyak mineral.

b. Pemanasan basah

Prinsipnya adalah dengan cara mengkoagulasi atau denaturasi protein penyusun tubuh mikroba sehingga dapat membunuh mikroba.

  • Uap bertekanan (autoklaf)

Digunakan untuk sterilisasi alat gelas, larutan yang dimaksudkan untuk diinjeksikan ke dalam tubuh, alat berskala, bahan karet. Waktu yang dibutuhkan untuk sterilisasi larutan suhu 121oC adalah 12 menit. Uap jenuh pada suhu 121oC mampu membunuh secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme dalam 1 atau 2 menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora bakteri yang tahan pemanasan.

  • Pemanasan dengan bakterisida

Digunakan untuk sterilisasi larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil dalam autoklaf. Tidak digunakan untuk larutan obat injeksi intravena dosis tunggal lebih dari 15 ml, injeksi intratekal, atau intrasisternal. Larutan yang ditambahkan bakterisida dipanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100 oC selama 10 menit di dalam pensteril uap atau penangas air. Bakterisida yang digunakan 0,5% fenol; 0,5% klorobutanol; 0,002 % fenil merkuri nitrat; 0,2% klorokresol.

  • Air mendidih

Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti jarum spoit. Hanya dilakukan dalam keadaan darurat. Dapat membunuh bentuk vegetatif mikroorganisme tetapi tidak sporanya.

c. Cara bukan panas

  • Sterilisasi dengan radiasi

Prinsipnya adalah radiasi menembus dinding sel dengan langsung mengenai DNA dari inti sel sehingga mikroba mengalami mutasi. Digunakan untuk sterilisasi bahan atau produk yang peka terhadap panas (termolabil). Ada dua macam radiasi yang digunakan yakni gelombang elektromagnetik (sinar x, sinar γ) dan arus partikel kecil (sinar α dan β).

METODE KIMIA

a. Menggunakan bahan kimia

Dalam pensterilan digunakan bahan kimia seperti alkohol 70%, fenol 5%.
b. Sterilisasi gas

Dalam pensterilan digunakan bahan kimia dalam bentuk gas atau uap, seperti etilen oksida, formaldehid, propilen oksida, klorin oksida, beta propiolakton, metilbromida, kloropikrin. Digunakan untuk sterilisasi bahan yang termolabil seperti bahan biologi, makanan, plastik, antibiotik. Aksi antimikrobialnya adalah gas etilen oksida mengadisi gugus –SH, -OH, -COOH,-NH2 dari protein dan membentuk ikatan alkilasi sehingga protein mengalami kerusakan dan mikroba mati.

METODE MEKANIK

Filtrasi

Digunakan untuk sterilisasi larutan yang termolabil. Penyaringan ini menggunakan filter bakteri. Metode ini tidak dapat membunuh mikroba, mikroba hanya akan tertahan oleh pori-pori filter dan terpisah dari filtratnya. Dibutuhkan penguasaan teknik aseptik yang baik dalam melakukan metode ini. Filter biasanya terbuat dari asbes, porselen. Filtrat bebas dari bakteri tetapi tidak bebas dari virus.

Sterilisasi secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.

Sterilisasi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan misalnya dengan menggunakan desinfeksi larutan alkohol, larutan formalin, larutan AMC (campuran asam khlorida dengan garam Hg) dan sebagainya.

Dipirogenasi dapat dicapai dengan 2 cara yaitu dengan menginaktivasi atau menghilangkan endotoksin:
a. Depirogenasi Endotoksin dengan Inaktivasi

Inaktivasi dapat dilakukan dengan pemurnian molekul lipopolisakarida dengan menggunakan sejumlah besar perlakuan kimia yang memecah / merusak bahan kimia lain/gugus yang dibutuhkan untuk aktivasi pirogenik.

  1. Hidrolisis Asam Basa

Despirogenasi menggunakan hidrolisis asam basa/alkali menurunkan atau menghilangkan aktivasi biologi dari lippolisakarida bakteri dengan aktivasi lemak A. Lemak A adalah rantai inti polisakarida atau 2 keto 3 asam dioksiketon. Rantai asam 8 karbon asam gula khusus dari LPS bakteri Hidrolisis asam aktif pada asam labil ketosidik ini pada inti yang terpisah dari lemak A dari sisa molekul LPS.

  1. Oksidasi

Pengetahuan tentang inaktivasi oksidasi dari endotoksin dapat ditemukan ketika Hanrd melaporkan bahwa sel Salmonella Typosa menghilangkan kapasitas produksi demam ketika dicuci dengan H2O2.  Dari asam lemak yang dihasilkan dalam lemak A dari LPS dapat dianjurkan.

  1. Alkilasi

Endotoksin dilaporkan dengan bahan pengalkil menurunkan pirogenitas endotoksin dihilangkan dengan asam anhidrat. Grup yang sama dilaporkan lapisan diturunkan ketika endotoksin digunakan dengan subsinat anhidrat. Disamping mekanisme reaksi ini secara perlahan dengan asetilasi.

  1. Perlakuan dengan panas kering.
  2. Perlakuan dengan panas lembab.
  3. Radiasi ionisasi.
  4. Poliniksin B
  5. LAL (Limolas Amobacyte Lisate)

b. Despirogenasi dengan Menghilangkan Endotoksin

Terdapat beberapa cara depirogenasi untuk menghilangkan endotoksin dalam produk steril farmasi, antara lain :

  1. Pembilasan
  2. Destilasi
  3. Ultrafiltrasi
  4. Osmosa bolak balik
  5. Karbon aktif
  6. Daya tarik elektrosatik dengan jalan modifikasi media
  7. Daya tarik hidrofobik pada media hidrofobik

sterilisasi_depirogenasi_bhs_5

Apa saja perbedaan metode sterilisasi dan depirogenasi?

Sterilisasi dan depirogenasi panas merupakan metode yang paling banyak digunakan. Sterilisasi menggunakan untuk menghilangkan mikroba pada alat gelas dan beberapa bahan yang tahan terhadap pemanasan. Depirogenasi banyak digunakan untuk menghilangkan endotoksin pada vial obat, aqua pro injection, larutan injeksi dan lain-lain.

Durasi panas dan temperatur merupakan kondisi dasar yang menentukan tingkat sterilitas dalam kedua proses tersebut. Depirogenasi dan sterilisasi melibatkan pemanasan pada permukaan bagian luar dan dalam yang dirancang secara spesifik untuk benda tahan panas. Pada proses sterilisasi hanya memerlukan pemanasan dengan suhu dan waktu tertentu, depirogenasi selain pemanasan juga membutuhkan filter untuk menyaring endotoksin. Filter Seitz adalah filter yang dibuat berlapis untuk mencegah sobeknya filter, namun dapat menyebabkan larutan terabsorpsi ke dalam filter. Endotoksin yang berukuran lebih kecil dari batas tersebut dapat berhasil melintasi filter. Karena ukuran endotoksin sangat bervariasi, ultrafilter dapat juga digunakan untuk proses depirogenasi. Depirogenasi dan sterilisasi panas kering pada dasarnya merupakan proses yang berbeda yang bertujuan untuk mencapai hasil yang sama, yaitu membunuh endotoksin dan eksotoksin.

Baca Juga Artikel Lainnya : Jangan Konsumsi Makanan dan Minuman Ini Bersamaan Dengan Minum Obat!

Jika Anda ingin mendapatkan pengetahuan lainnya mengenai bisnis apotek, Anda dapat mendownload aplikasi SwipeRx di play store. Selain itu, jika anda ingin mendapatkan keuntungan berbisnis dengan SwipeRx daftarkan apotek anda disini, untuk mendapatkan produk sediaan farmasi 100% original, pengiriman cepat dan harga bersaing.

Source :

Membedakan Sterilisasi dan Depirogenasi

Riandi. Teknik Laboratorium. Jakarta: Erlangga. 2004.

Schlegel G. Hans. Mikrobiologi Umum Edisi 6. Yogyakarta: Gadjah Mada,University Press. 1994.

Anonim,Sterilisasi/secara/fisika.html,http://www.blogcatalog.com/directory/education_and_training/secondary(04November 2009).

Anonim,Sterilisasi/secara/fisika.html,http://www.finderonly.com (04 November2009).

Anonim,Sterilisasi/secara/kimia.htm,http://www.blogcatalog.com/directory/education _and_training/secondary (04November 2009).

Anonim,Sterilisasi/secara/kimia.htm,http://www.mypagerank.net/seomonitor37433.html (04November 2009).

Suriawira. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa; Bandung. 1983.

Yusriani, dr. Kumpulan Diktat Kuliah Mikrobiologi. UIT; Makassar. 2008

Gennaro,A.R, et all, (1990), “Rhemingtons Pharmaceutical Science”, 18th Edition, Marck Publishing Company, Pensylvania.

Howard, Ansel, (1989), “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi”, UI Press,Jakarta.

Jenkins, Glen, dkk, (1957), “Scoville’s The Art of Compounding”, MC Growhill, Book Company,New York.

Parrot, Eugene C, (1980), “Pharmaceutical Technology”, Collage of PharmacyUniversity of Iowa,Iowa City.

Torce, Salvatore dan Robert S King, (1974), “Sterile Dosage Form”, Lea Febinger, Philadelphia

Topik Populer

Video SwipeRx Terbaru

Farmakepo: Benarkah puasa pemicu gangguan pencernaan?

Baca lainnya

Keuntungan menggunakan SwipeRx?

Lebih dari 200,000 tenaga kefarmasian menggunakan fitur-fitur berguna di aplikasi SwipeRx untuk membantu kehidupan profesional sehari-hari mereka.